satgasfinansial-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menunjukkan pergerakan dinamis usai sempat melemah akibat aksi ambil untung (profit taking) pelaku pasar.
Sebelumnya, IHSG pada perdagangan Kamis (11/12) ditutup melemah 117,53 poin atau 1,35 persen ke level 8.583,39. Tekanan jual juga terjadi pada indeks LQ45 yang turun 16,14 poin atau 1,88 persen ke posisi 840,82.
Namun, pada perdagangan berikutnya, IHSG justru kembali menguat. Berdasarkan pantauan perdagangan intraday, IHSG naik ke level 8.660,5 atau menguat 40,02 poin (+0,46 persen). Pergerakan indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di kisaran 8.675 sebelum bergerak konsolidatif.
Penguatan ini mengindikasikan sentimen pasar masih cukup solid, meski investor tetap selektif dan berhati-hati di tengah volatilitas global.
Aturan Baru BEI: Order Tidak Bisa Dicabut Saat Preopening dan Preclosing
Menariknya, pergerakan IHSG kali ini juga dibayangi oleh penerapan aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mendapat perhatian luas dari pelaku pasar, khususnya investor ritel.
Dalam aturan tersebut, order beli (bid) dan order jual (offer) yang telah dimasukkan pada sesi preopening dan preclosing tidak dapat dibatalkan. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi harga pembukaan (Opening Price) dan harga penutupan (Closing Price) yang selama ini kerap menjadi sorotan.
Aturan ini diyakini mampu menekan praktik manipulasi Indicated Equilibrium Price (IEP), di mana sebelumnya terdapat potensi pihak tertentu memasang order besar lalu mencabutnya menjelang eksekusi untuk menggiring harga.
Peluang Baru untuk Investor Ritel dan Strategi FCA
Bagi investor ritel, kebijakan ini justru membuka peluang baru. Dengan order yang tidak bisa dicabut, harga preopening dan preclosing menjadi lebih mencerminkan supply dan demand riil.
Sejumlah pelaku pasar menilai aturan ini dapat dimanfaatkan untuk strategi fraksinasi saham (FCA), khususnya pada saham-saham dengan likuiditas tinggi. Investor ritel kini memiliki kesempatan lebih adil untuk masuk di harga pembukaan atau keluar di harga penutupan tanpa khawatir adanya order “palsu” yang tiba-tiba menghilang.
Selain itu, stabilitas harga penutupan juga dinilai akan meningkatkan kredibilitas pergerakan indeks, mengingat harga closing kerap dijadikan acuan oleh investor institusi, reksa dana, hingga pengelola indeks.
Pasar Masih Berpeluang Fluktuatif
Meski demikian, analis mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih berpotensi terjadi, terutama dipengaruhi oleh arus dana asing, data ekonomi global, serta kebijakan bank sentral ke depan.
Investor disarankan tetap mencermati pergerakan saham berfundamental kuat dan mengelola risiko dengan disiplin, sembari memanfaatkan peluang dari dinamika regulasi baru yang mulai membentuk wajah pasar
— lah main copy aja lu bang (SatgasFinansial.online)