Cerita Ali di Desa Rappolemba

Hari senin, spesial di satgasfinansial menceritakan cerita cerita di sisi sisi dalam wilayah negara Indonesia, kali ini kita akan ke desa Rappolemba, Goa, Sulawesi Selatan

Akhir Sang “Monster”

Seorang pria bernama Ali di PARANG DUA TALLU RAPPOLEMBA tewas tragis setelah menjadi sasaran amuk massa akibat rangkaian tindakan kriminal yang dilakukannya. Dalam penjelasan yang berkembang di masyarakat, Ali disebut telah lama meresahkan warga dan terlibat dalam sejumlah tindak kejahatan serius sebelum akhirnya dihakimi pada hari naas tersebut.

Cerita Ali dan Riwayat Kriminalnya

Ali diketahui sudah sekitar 15 tahun dilarang kembali ke kampungnya karena rekam jejak kelam, termasuk tindakan pelecehan serta berbagai pelanggaran hukum lain. Ia juga disebut kerap keluar-masuk penjara.

Dua tahun lalu, Ali dilaporkan mencuri uang sebesar Rp80 juta di wilayah Cikoro dan menjalani masa tahanan. Usai bebas, ia kembali masuk ke wilayah kampung dan tingkah lakunya kembali menimbulkan keresahan. Warga mengaku sering mendengar suara mencurigakan di atap rumah, bayangan di jendela, serta berbagai tindakan teror lain pada malam hari.

1. Pencurian Laptop Milik Warga

Pada malam sebelum kejadian, sekitar pukul 23.35 WITA, Ali diduga menyelinap ke rumah seorang warga bernama Dg Suriani dan mengambil sebuah laptop. Peristiwa itu membuat warga memperketat ronda karena sudah merasa sangat geram dengan kejadian berulang tersebut.

2. Aksi Bejat Terhadap Perempuan Disabilitas

Keesokan paginya, saat warga masih membahas kasus pencurian tersebut, Ali kembali diduga melakukan tindakan yang jauh lebih keji. Korban adalah seorang perempuan disabilitas bernama Tia, yang tidak mampu membela diri ketika menjadi sasaran penganiayaan berat dan kekerasan seksual.

Korban mengalami luka parah dan sempat berada dalam kondisi kritis akibat kekerasan ekstrem yang diterimanya. Tia kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Kabar mengenai tindakan tersebut menyebar cepat dan memicu kemarahan besar di tengah masyarakat.

–Amukan Massa–

Menjelang sore, persembunyian Ali teridentifikasi oleh warga. Ratusan orang mengepung lokasi dan menangkapnya tanpa perlawanan berarti. Amarah warga tak terbendung setelah mengetahui detail tindakan yang dilakukan terhadap korban.

Ali kemudian mengalami tindakan main hakim sendiri. Ia diikat, dipukuli, dan diseret oleh massa hingga akhirnya meninggal dunia di lokasi. Aparat keamanan disebut tidak sempat mengamankan situasi karena massa yang sudah terlanjur tersulut emosi.

Akhir Tragis dari Rangkaian Kejahatan

Kematian Ali menjadi penutup dari rangkaian tindakan kriminal yang selama bertahun-tahun membuat warga resah. Warga menilai tindakan mereka adalah bentuk luapan kemarahan atas perbuatan yang dinilai tidak manusiawi.

Camat Tompobulu, Muhammad Akbar Tola, mengonfirmasi semua itu: pemerkosaan, pencurian, residivis. “Iya betul itu,” ujarnya pendek, seperti tak ingin memperpanjang daftar yang sudah cukup kelam. Setelah dikuburkan subuh dini hari, aparat berjaga mengamankan keluarga. Ia sendiri mengaku melihat foto kondisi tubuh Ali: “Dicabik-cabik… kemaluannya dipot0ng.” (sumber: https://sulsel.herald.id/2025/12/04/pria-yang-mayatnya-diseret-warga-pakai-motor-ternyata-pernah-hamili-saudara-tiri/)
Pihak berwenang hingga kini masih melakukan pendalaman dan pengumpulan keterangan terkait kejadian tersebut, termasuk kondisi korban Tia yang masih dirawat serta proses hukum yang akan ditempuh terkait tindakan massa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *